Senin, 15 Maret 2010

Legenda Asal Usul Suku Bulungan

Dari Legenda yang ada dan berkembang di kalangan masyarakat Bulungan dikenal dalam kiash tersebut nama “Kuwanji” seorang Pemimpin adat dikawasan Sungai (Long) Payang anak Sungai Pujungan, yang bersangkutan hidup damai dan sejahtera bersama istrinya.

Asal usul suku Bulungan adalah dari sepotong bambu betung yang disebut juga Bulu Tengon dan sebuah Telur yang menjelma menjadi manusia.

Konon ceritanya disebuah desa di hulu sungai tersebut dihuni oleh sekitar ± 80 jiwa yang hidup damai sejahtera. Hingga masa tuanyasuami istri Kuwanji, belum dianugrahi keturunan sehingga setiap saat Kuwanji dan istri berdoa pada Yang Maha Kuasa dengan penuh kepasrahan. Kuwanji setiap harinya dengan mat pencahariannya berburu menulusuri hutan belantara, gunung dan bukit bersama anjing kesayangannya.

Alhasil saat menulusuri hutan belantara tersebut, Kuwanji mendengar suara aneh dan melihat anjingnya sedang menyalak dengan keras dan terus – menerus kearah serumpun bambu betung dan sekiar itu terlihat juga sebutir telur diatas tunggul pohon jemelai.

Karena hari sudah terlalu sore dan hasil buruan tidak kunjung didapat dengan rasa penasaran terhadap bambu dan telur tersebut maka oleh Kuwanji, membawanyanya pulang kerumah. Sesampainya dirumah potngan bambu dan telur tersebut diserahkannya pada istrinya. Dan oleh istrinya benda trsebut diletakkan diatas para – para dapurnya.

Karena lelah dan rasa capek, selain itu suasana malam yang turun hujan dan guntur yang cukup dahsyat Kuwanji dan istrinya beristrahat, hingga mereka tertidur dengan pulas dan lelapnya.

Setelah keesokan harinya Kuwanji dan istrinya terbangun, mereka terkejut karma disekitar mereka mendengar suara tangis bayi dari arah dapur. Dengan segera mereka menghampiri suara tangis tersebut. Alangkah kagetnya Kuwanji dengan istrinya melihat bahwa sumber tangisan tersebut berasal dari bambu dan telur yang ia bawa kemrain sore.

Setelah diamati ternyata bayi tersebut merupakan pasangan bayi laki – laki dan bayi perempuan. Oleh Kuwanji diberi nama Jau Iru artinya Guntur Besar untuk bayi laki – laki dan Lamlai Suri untuk bayi perempuan.

Dan setelah kejadian tersebut oleh Kuwanji dan istrinya diberitahukan hal tersebut pada masyarkat. Maka oleh masyarakat dinamakan Bulungan (Bambu dan Telur) yang selanjutnya berkembang menjadi Bulungan. Versi lain menceritakan bahwa Bulungan berasal dari kata Bulu (Bambu) dan Tengon (Sungguhan) sehingga Bulu Tengon (Bambu Sungguhan).

Karena kedua pasangan tersebut bukanlah saudara kandung maka setelah dewasa Kuwanji menjodohkan mereka berdua menjadi pasangan suami istri yang akhirnya mendapatkan sorang anak bernama Djau Anji.

Setelah Kuwanji’ wafat Daju Iru didaulat oleh penduduk desa tersebut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kepala suku Bulungan.

Berikutnya sesudah Djau Iru wafat digantikan Djau Anji’ yang memperoleh anak bernama Paren Djau dan meneruskan kedudukannya.

Saat Paren Djau wafat ia digantikan anaknya Paren Anji’ dan terakhir Paren Anji’ diganti anak putrinya bernama Lahai Bara.

Pada masa Lahai Bara menjadi kepala suku ia dipersuntingkan dengan seorang ksatria bernama Wan Paren. (Batu kuburan/makam pimpinan Bulungan ini ada di desa Long Pleban di Muara Sungai Batang, Kecamatan Peso).

Dikisahkan pula saat Paren Anji’ sebagai kepala suku sebelum ia wafat ia meminta kepada Lahai Bara agar menguburkan jasadnya dalam lungun untuk dibawa kearah ilir sungai kayan.

Namun sangat disayangkan saat kematian Paren Anji’ semua perahu disembunyikan orang di daratan sehingga Lahai Bara mulai dari tepi sebelah barat berjalan memotong menuju tepi sebelah timur sambil menyeret dayungnya dibelakang dengan tiba – tiba setibanya di Timur Sungai Pajang itu pun putus lalu hanyut melewati riam berpuluh – puluh di Sungai Bahau hingga berhenti disebelah hulu Desa Long Pleban sekarang, karena itu Pulau tersebut dinamai orang saat ini Busang Mayun artinya Pulau Hanyut (dalam bahasa Kayan).

Sebelum tahun 1921 – 1922 kuburan tersebut masih teratur dengan baik semuanya terbuat dari batu maka dalam tahun tersebut oleh seorang Belanda Controluer Bulungan bernama Myers membongkar kuburan tersebut, tetapi malangnya saat imengerjakan pembongkaran tersebut ia ditimpa penyakit demam yang hebat sekali sehingga sehari kemudian ia meninggal dunia.

Maksud Controleur tersebut agar supaya keluarga Ningrat Bulungan boleh mudik melewati perkuburan/makam tersebut karena tempat tersebut adalah pantang dilewati. Dari waktu itulah hingga sekarang kuburan tersebut hanya tinggal bentuknya saja.

Singkat cerita setelah Lahai Bara wafat maka generasi berikutnya adalah Simun Luwan. Yang mempunyai anak bernama Sadang laki – laki dan Asung Luwan perempuan.

Diceritakan pada masa pemerintahan Sadang tahun 1458 sampai 1555 kawasannya diserang oleh gerombolan pengacau dari suku Kenyah yang datang dari Negeri Serawak dipimpin oleh Sumbang Lawing. Sementara sang adik Asung Luwan berhasil selamat dan bersama pengikut – pengikutnya menuju kepesisir pantai di daerah Baratan. Didaerah Baratan inilah Asung Luwan bertemu dengan Pangeran Kerajaan Brunai bernama Datuk Mancang atau sebagiannya menyebutnya Datu Lancang.

Menurut kisah, setelah bertemu dengan Asung Luwan, Pangeran Datu Mancang berkeinginan melamarnya, namun lamaran Datuk Mancang ditolak Asung Luwan terkecuali ia bisa memenuhi syarat mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing yang telah membunuh kakaknya, Sadang. Oleh Datuk Mancang, persyaratan itu disanggupi, sehingga terjadilah perang tanding antara Datuk Mancang dengan Sumbang Lawing.

Namun karena keduanya sama – sama memilki kesaktian, maka tidak ada yang kalah. Dan untuk membuktikan kesaktian keduanya, maka dilakukan uji ketangkasan dengan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata masing – masing. Siapa yang kalah harus meninggalkan kawasan Baratan. Ternyata dalam uji ketangkasan ini Datuk Mancang lebih unggul. Sehingga Sumbang Lawing dengan kekalahannya harus meninggalkan kawasan Baratan. Selanjutnya Datuk Mancang menikahi Asung Luwan dan bersama – sama memerintah di kawasan Baratan serta Busang Arau (Kuala Sungai Pengian) hingga tahun 1595.

Pernikahan Datuk Mancang dan Asung Luwan diikuti pula oleh para Prajurit Brunai dengan para gadis Baratan dan hingga seterusnya berkembang menjadi masyarakat suku Bulungan. Perkawinan antar etnis ini pula yang memperkuat sejarah perkembangan agam Islam di pedalaman Kalimantan.

Legenda dan sejarah Kabupaten Bulungan terus mengalir tanpa terhenti. Bahkan setiap saat terus digali, dalam upaya pelestarian nilai – nilai budaya lokal dan adat istiadat masyarakat Bulungan.

7 komentar:

  1. Apakah Datuk Mancang seorang pangeran..... bagaimana anda membuktikannya..... Apakah anda mempunyai silsilah tentang Kerajaan Brunei.......

    BalasHapus
  2. untuk mas Taka mungkin bisa meliat buku Dt. Iskandar zulkarnaen, judulnya "Hikayat Datuk Lancang dan putri Kayan" insya Allah informasi dan testemoni pengetua Pusat Sejarah Brunei, Yang Dimuliakan Pehin Jawatan Dalam Seri Maharaja, Dato Seri Utama Dr. Haji Awang Mohd. Jamil Al Sufri telah berkunjung ke Bulungan.
    Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat Bulungan, delegasi dari Brunei tersebut mengakui tentang sejumlah tokoh tersebut, misalnya Datoe Mancong, dan dua orang yang menyertainya, yakni penasehat kerajaan, Datoe Mahubut dan Laksamana, Datoe Tantalangi.

    BalasHapus
  3. Ya... terima kasih untuk Muhammadzarkasy-Bulungan, mengenai hal itu saya juga pernah dengar dan semua jawaban dari Taka sudah ada disitu... Karena pada dasarnya Kerajaan Bulungan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Brunai.. untuk penelusuran silsilah bisa dicek di Museum Kesultanan Bulungan. Terima Kasih banyak atas komentarnya...

    BalasHapus
  4. assalam bang, saya pengen liat artikel yang lain dong, apa ada tulisan-tulisan lain mengenai sejarah dan budaya bulungan, saya kebetulan penggemar sejarah dan budaya Bulungan.

    BalasHapus
  5. assalamu'alaikum bang, cy asli dan lahir dibulungan tapi cy mc blum tw banyak kisah2 tentang bulungan, mohon bimbingannya !

    BalasHapus
  6. Ass, saya sekitar dua tahun silam ke Brunei mengikuti Sukan Borneo III-2009 di Brunei Darussalam, ternyata memang Brunei dan Bulungan itu sangat dekat secara geografis, sehingga secara sosial, budaya serta bahasa lebih banyak kesamaan ketimbang perbedaan, bahkan buah-buah yang ada di bulungan namun sulit ditemukan di daerah lain ternyata bukan barang langka di sana, sebut saja lai dan durian merah berduri tajam ada dijual di pasar, ini contoh kecil tentang akibat kedekatan secara geografis. Bahkan, ketika berkenalan dengan warga sana, mereka tidak percaya saya orang Indonesia (mungkin orang Indonesia dipersepsikan sebagai Orang Jawa atau Orang Sunda yg banyak jadi TKI/TKW), ternyata karena saya sulit menghilangkan logat "Melayu Bulungan" meskipun sudah menggunakan Bahasa Indonesa Secara Benar dan Disempurnakan, logat saya ternyata mirip bahasa mereka atau "Melayu Brunei", meskipun saya tidak sempat ke perpustakaan Brunei untuk menyelusuri sejarah namun dalam batin saya menyakini bahwa dari tanah inilah leluhur kami berasal, trims wassalam

    BalasHapus
  7. Tidak Ada bukti Tertulis di lampirkan untuk menguatkan lagenda ini .

    BalasHapus